Harvey Malaiholo Macan Festival

Harvey Malaiholo Macan Festival

Suatu ketika Harvey Malaiholo dan rombongan dari Jakarta mampir di Surabaya. Berdiri, ngobrol, di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat terkenal.

Nagaswara Million Star Episode 18
Top 40, 23 Oktober 2010
Photo nge-Hietz Aku Bukan Bang Toyib “Wali” live RCTI

Suatu ketika Harvey Malaiholo dan rombongan dari Jakarta mampir di Surabaya. Berdiri, ngobrol, di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat terkenal. Kebetulan Harvey Malaiholo akan mengisi konser jazz di Surabaya.

Begitu banyak orang melintas masuk keluar gedung. Namun tak ada seorang pun yang mengenali Harvey Malaiholo. Tidak minta tanda tangan. Tak minta foto bareng. Atau hanya sekadar bersalaman.

Harvey Malaiholo sih santai saja. Dia kelihatan senang bisa nyanyi lagi setelah cukup lama tak manggung di Surabaya. “Kegiatan saya tetap padat, nyanyi di mana-mana,” katanya.

Hanya saja, artis lawas macam Harvey Malaiholo ini sudah tak dapat tempat di televisi dalam 15 tahun terakhir. Tak dapat tempat di industri hiburan. Maka, wajar jika masyarakat baik yang muda dan tua tak kenal siapa gerangan Harvey Malaiholo dengan suara yang sangat berkualitas.

Bahkan dulu Harvey adalah macan festival. Langganan juara satu sehingga panitia sampai melarang dia ikut festival yang sama. Kasih kesempatan untuk yang lain. Kedahsyatan vokal Harvey Malaiholo akan terasa luar biasa jika dia membawakan komposisi dan aransemen karya Elfa Secioria.

Sayang, Indonesia tak memberi tempat bagi artis senior. Seakan artis kita tidak boleh tua. Usia artis kita harus tetap di bawah 30. Ketika usia si artis merambat naik, maka dia segera digantikan artis muda dan tak peduli kualitasnya. Maka, bakat sebesar Harvey Malaiholo pun akhirnya hanya bisa show kecil-kecilan.

“Harvey itu sopo? Bekas pejabat ya?” kata seorang mahasiswa saat ditanya pengetahuannya tentang Harvey Malaiholo. www.nagaswara.co.id/ Kim Sadewa

COMMENTS