HUT ke-5 Gaperindo

The Akmani Hotel, Jakarta, Kabarindo- Anda tentu masih ingat 5 tahun yang lalu 2005, Gabungan Perusahaan Rekaman Indonesia memulai meneriakkan semang

The Akmani Hotel, Jakarta, Kabarindo- Anda tentu masih ingat 5 tahun yang lalu 2005, Gabungan Perusahaan Rekaman Indonesia memulai meneriakkan semangat bersama anti pembajakan. Hari ini diperingati HUT ke-5 Gaperindo bersama 11 asosiasi bersatu di  LK-Gerakan Anti Pembajakan (GAP). Mempersiapkan GAPRINDO menjadi manajemen kolektif dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Dalam sambutannya, Togar Sianipar selaku Ketua Umum Gaperindo memuji beberapa Polda bersama polres dan polsek yang berhasil memberantas para pelaku CD Bajakan seperti Jatim, Sumsel, Jateng, Metrojaya, Batam Riau, Makassar, dan Bali.
Menarik Gaperindo sudah diminta sebagai narasumber anti pembajakan saat pelatihan dan workshop para reserse baru. Lanjut dijelaskan menyongsong pembahasan DPR berupa RUU Hak Cipta yang akan memberlakukan UU Hak Cipta tahun 2012 mendatang.

Gaperindo akan berubah menjadi Gabungan Produser Rekaman Indonesia (Gaprindo). Dengan mengentaskan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Berlanjut ke Binsar Silalahi  selaku ketua harian menjelaskan tentang Lembaga Manajemen Kolektif adalah badan yang akan mengkolek (mengumpulkan royalty dari performing right dari hak produser, pemusik dan penari latar)
Sementara performing right adalah royalti yang harus dibayar masyarakat atau pengguna kepada yang berhak seperti; pencipta atau pemegang hak cipta (publisher) dan pelaku (pemusik dan penari) serta produser.

Tampak hadir Rahayu Kertawiguna (Sekjen GAPERINDO) dan redaksi berkesempatan mewawancarai Bens Leo selaku pengamat musik. Ia berkomentar lebih luas yaitu RI harus punya  Komisi Nasional Anti Pembajakan, karena pembajakan tidak saja berlaku untuk dimusik tapi di seluruh aspek berkesenian sehingga pemerintah harus bisa lebih serius.

“Komisi Nasional Anti Pembajakan harus berisi dari seluruh keterwakilan hak cipta dari industri kreatif,” paparnya lebih lanjut.
Sementara itu Fenomena RBT tidak memenuhi kaidah apresiasi karena tidak mendengar lagu secara utuh karena lagu yang didengat terpotong-potong, tidak melihat album CD dan nama-nama pemain. Dan tayangan musik di TV rata-rata menggunakan minus one yang membuat industri musik tidak terapresiasi secara baik.
Diakhiri dengan pengguntingan CD Bajakan sebagai simbol perlawanan Anti Pembajakan…..

Kontributor Kabarindo : Teks: AruL ArisTa (Senior Editor) / Foto-Foto: Ayyu Flash

COMMENTS