Musik, Teknologi dan Revolusi

Musik, Teknologi dan Revolusi

Sebuah provider menelurkan konten Musik baru di City Hall Atrium EX Plaza, pada hari Selasa, 22 November 2011. Dengan hanya seribu perak, bisa downloa

Korean Stars Looks Alike
Rubi Dan Aciet Mirip Artis ???
Nagaswara Ulang Tahun Ke-12

Sebuah provider menelurkan konten Musik baru di City Hall Atrium EX Plaza, pada hari Selasa, 22 November 2011. Dengan hanya seribu perak, bisa download ribuan lagu sepuasnya selama seminggu hanya dengan Rp 1000. Di dalamnya, ada 15000 pilihan judul single yang dapat dipilah pilih sesuai selera. Mereka menamakannya dengan sebutan layanan langit musik hits.

Kalau di internet, kita bisa melihat di www.langitmusik.com atau kalau di ponsel atau  gadget tinggal ngetik *616*1# dan setelah masuk menu utama, ikuti langkah selanjutnya. Hanya saja, kalau seribu perak dibagi 15000 artis, masing-masing artis hanya mendapat rejeki nol koma nol sekian persen. Itu pun, dalam seminggu, tidak 15 ribu artis yang ada, belum tentu kebagian walau seperak.

Menurut seorang pengamat musik, sama halnya karya-karya musisi ternyata hanya dihargai tidak sampai satu perak. Harga tersebut kalau dibandingkan dengan harga lagu yang dijual di counter-counter yang berada di mall, tentu masih kalah jauh. Sebab, di counter-counter handphone yang menjual tiga single lagu dalam bentuk mp3 saja, mereka mengenakan biasa 3000 per tiga lagu.

Tiga ribu dibanding satu perak, tentu saja nilai selisihnya sangat jauh berbeda. Lantas, kenapa kebijakannya hanya memberikan nominal semurah itu? Atau hanya mementingkan keuntungan bagi orang-orang creative dari provider itu semata?

Atau, jangan-jangan mereka tidak lagi berupaya memikirkan masa depan para pelaku seni dan musisi yang terlibat di dalamnya. Karena tanpa orang-orang seni, tentu saja layanan ini tidak akan berjalan seperti harapan. Karena sebuah retail musik, tidak lepas dari karya-karya para seniman musik yang ada, khususnya para artis penyanyi dan pencipta lagu di tanah air.

Bayangkan saja, jika satu perak dibagi dan dipecah-pecah lagi menjadi nol koma nol sekian, lalu masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian, diantaranya seniman musik, pencipta lagu, dan para pelaku musik yang lainnya. Bisa saja, masa depan musik di Indonesia, tidak ada lagi harganya. Tunggu saja kemiskinan, akan merajalela bagi mereka yang berkecimpung di bidang musik, lagu dan sejenisnya.

Tentu saja, teknologi memang memiliki sisi yang kurang menguntungkan bagi pihak lain. Karena sebagai provider pun, mereka berhak memiliki alasan yang tidak dapat juga disalahkan. Tapi sampai kapan kebijakan seperti ini terus ada? Kapankah impian indah bagi para musikers mereka bantu wujudkan? Misalnya dengan mengajak masyarakat untuk ramai-ramai men-download lagu ciptaan anak-anak bangsa, dengan harga lebih pantas dan sepatutnya?

Karena ketika layanan ini bergulir dan hanya menguntungkan salah satu pihak, pada akhirnya semua akan menjadi korban. Bayangkan saja, kalau yang untung dan bisa makan hanya orang-orang creator layanan, para musisi akhirnya memilih tidak lagi berkarya. Karena apa untungnya mencipta lagu dan rekaman kalau hanya berharap nol koma nol sekian perak?

Nah, kalau semua musisi sudah berhenti berkarya, maka provider pun tidak bisa lagi menjual lagu. Karena lagu-lagu yang lama pun orang sudah bosan, dan tidak ada lagi yang dapat dijual. Nah, kalau sudah berhenti semuanya, masyarakat pun tidak dapat lagi mengunduh atau menikmati lagu-lagu baru yang lebih fresh dan menyegarkan pikiran. www.nagaswaramusic.com/Kim Sadewa

Untuk melihat versi mobile yang dioptimalkan Klik disini.

COMMENTS