Pelantikan Rahayu Kertawiguna Sebagai Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta

Pelantikan Rahayu Kertawiguna Sebagai Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta

Setelah terpilih sebagai Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta pada bulan Juli 2011 yang lalu, Rahayu Kertawiguna siap melantik para anggota DPD PAPPRI untuk w

Selamatkan Musik Indonesia Save RBT
FOS di Eight Eleven Metro TV
PERMINDO Aksi dan Edukasi Melipat Pencuri Hak Cipta

Setelah terpilih sebagai Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta pada bulan Juli 2011 yang lalu, Rahayu Kertawiguna siap melantik para anggota DPD PAPPRI untuk wilayah DKI Jakarta. Rahayu Kertawiguna yang dikenal sebagai produser label rekaman NAGASWARA, adalah sosok yang sangat dikenal di lingkungan PAPPRI.

Sebelumnya dalam kepengurusan periode 2007-2011, beliau duduk sebagai Bendahara Umum. Perhatiannya yang begitu besar terhadap nasib para musisi dan mereka yang hidup di dunia musik, turut memposisikan Rahayu Kertawiguna sebagai Sekjen Gabungan Perusahaan Rekaman Indonesia (Gaperindo).
Sejak pelantikan di Usmar Ismail, Senin petang 5 Desember 2011, pada tiga bulan pertama adalah PR berat bagi bapak yang baik hati ini. Di antaranya adalah mengentaskan masalah pembajakan di Glodok Jakarta Barat. “Perhatian kita akan ditujukan kepada mereka. Karena kalau itu dibiarkan, industri musik ini makin lama akan kehilangan semangat lagi. Apalagi terakhir ini karena adanya tsunami RBT, mengakibatkan dunia digital tewas seketika,” ujar Rahayu Kertawiguna.

Menurut CEO NAGASWARA, sebenarnya tidak sulit kalau ingin membenahi masalah pembajakan itu. Karena di Jawa Timur sudah pernah berhasil melakukannya ketika jamannya Pak Herman menjadi Kapolda. Tapi sekarang, di sana sudah balik lagi seperti di Jakarta. Karena tidak ada penanganan yang signifikan, akhirnya semuanya dianggap sama saja.
Jadi kalau sulit itu tidak benar, karena tergantung tingkat keseriusan masyarakat. Pak Rahayu Kertawiguna sendiri tidak mau lagi bertindak dengan menangkapi para pelaku pembajakan seperti jamannya Kapolda Herman.

“Kalau menurut saya, lebih baik koordinasi aja, toh kalau kita tangkap beberapa kali toh tidak ada gunanya juga. Kita sekarang berharap, agar ke depannya semua pihak saling membantu untuk sadar diri, tidak perlu kekerasan karena kita ingin mengatasi pembajakan dengan rasa simpati dan strategi.” terang beliau.

Teman-teman label lain juga senasib dan sepenanggungan. Kalau sudah menjual barang murah masih dibajak, bukannya bonyok? Kerugiaannya malah bertambah banyak. “Menurut saya, seperti hitam dan putih ya, yang baik dan jahat akan selalu ada. Tuhan menjadi wasit bagi malaikat dan setan yang selalu bergumul kan. Begitupun dengan saya, ingin selalu berbuat baik, dan ingin memperbaiki. Mungkin ke depannya kita tidak tahu lagi, berkarya untuk siapa. Ya mungkin hanya sekedar bernyanyi dan menghibur orang. Atau mungkin hanya bisa buat senang-senang, dimana bikin album tidak untuk dijual. Tetapi hanya untuk dibagi-bagikan. Namun kita tidak dalam posisi seperti itu,” papar beliau.

Menurut Rahayu, pihaknya bersama PAPPRI akan tetap di industri musik, dan punya kewajiban mempertahankan serta bertanggung jawab terhadap industri ini. Makanya, kita ajak Mas Badai dan Apoy, yang RBTnya bagus, agar kita tidak sia-sia berteriak-teriak membela musik di tanah air agar bersih dari pembajakan.
“Saat ini menurut saya kita dalam masa percobaan tuhan yang maha esa, bahwa kalau tidak ada RBT label bisa hidup atau tidak. Karena kondisi ini pula, beberapa label diberi kesempatan untuk hearing atau dengar pendapat di Komisi I DPR pada hari Selasa, 6 Desember 2011 lalu,” tandasnya.

Di mata Pak Rahayu Kertawiguna, industri musik Indonesia dewasa ini, tak ubahnya permainan roller coaster. Menanjak perlahan dengan sulitnya, lalu menukik tajam ke bawah. Berbagai persoalan dalam bisnis musik, tahun demi demi tahun bergulir tanpa sebuah solusi yang pasti, terutama dari pemerintah. Meski dianggap cukup membantu, Undang-undang Hak Cipta No 9 tahun 2002 ternyata belum sepenuhnya melindungi hak para pecipta lagu dan mereka yang bergerak dan hidup di bisnis musik. Persoalan ini makin bertambah pelik menyusul aturan baru Menkominfo soal aktivasi Ring Back Tone (RBT).

Namun, biang dari semua persoalan bisnis musik Tanah Air adalah masalah PEMBAJAKAN. Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Sidney, Australia, bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara terburuk dalam perlindungan hak atas kekayaan intelektual di Asia. Pendek kata, hingga saat ini Indonesia masih menjadi surga bagi para pembajak. Pembajakan yang berpusat di Glodok, Jakarta Pusat, sudah menggurita dan makin sulit dipotong jari-jarinya. Tak salah jika dalam satu dasawarsa, usaha Persatuan Artis Penyanyi Pencipta lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia  (PAPPRI) membasmi pembajakan persis seperti menggantang asap.

Tak ada pilihan, sebagai lembaga resmi yang mewadahi kepentingan musisi dan pencipta lagu,  PAPPRI harus terus mencari solusi dan langkah-langkah konkrit  guna mengedepankan nasib para pekerja seni di dunia musik Indonesia.
“Kita sangat memahami kalau para pembajak selalu satu langkah di depan. Namun, saya dan teman-teman yang begitu mencintai musik, tidak akan pernah berhenti memerangi para pembajak,” ujar Rahayu Kertawiguna. www.nagaswaramusic.com/Kim Sadewa

Untuk melihat versi mobile yang dioptimalkan Klik disini.

COMMENTS