Rahayu Kertawiguna Diskusi K-Pop Fever di 8-11 Metro TV

Rahayu Kertawiguna Diskusi K-Pop Fever di 8-11 Metro TV

Rahayu Kertawiguna Diskusi K-Pop Fever. Para pecinta musik Korea di Indonesia jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Fenomena musik pop Korea melanda

Nagaswara Music Awards (NMA) 2011 Gladi Resik
BE5T (Best Five) Provokator Trend Busana Girlband
Christ S9B dan Thomas FAME Tampil Bareng Shi Min Chul

Rahayu Kertawiguna Diskusi K-Pop Fever. Para pecinta musik Korea di Indonesia jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Fenomena musik pop Korea melanda Indonesia sejak tiga tahun silam. Sejak itu, demam dan fenomena K-pop di Indonesia terus bertambah dan dampaknya sekarang sungguh luar biasa.

Pada kesempatan di acara 8-11 Metro TV (27/1) membahas K-Pop Fever yang ada di Indonesia. Bersama presenter Prabu Revolusi mendatangkan CEO NAGASWARA, Rahayu Kertawiguna dan wartawan musik senior, Hans Miller Banurea sebagai narasumber di acara tersebut.

“Dari Korea mereka menyebutnya K-Pop sampai Indonesia berubah menjadi I-Pop, semua itu adalah sebuah trend sejenis boy band dan girl band  yang muncul. Jadi K-Pop dan I-Pop itu setara. Kebetulan Korea lebih mendominasi di dunia sehingga orang melihatnya ini trend dari  Korea,” ungkap Rahayu Kertawiguna saat menjelaskan trend K-pop di Indonesia.

Sedangkan dari sudut pandang wartawan musik senior,  Hans Miller Banurea , fenomena K-Pop sangat unik dan punya banyak unsur di dalamnya. Apalagi saat ini K-Pop menjadi trend di kalangan anak muda.

“Ssaya melihat ini sebuah hal yang wajar. Tidak bisa juga kita mengklaim kita punya jenis musik sendiri. Kalau melihat K-Pop dia menyanyi dan menari juga fashionable. Jadi kalau kita bicara K-Pop tidak bisa bicara musiknya saja, ada banyak unsur di sana,” ujar Hans Miller Banurea .

Bahkan sebelumnya Hans Miller mengaku meragukan penampilan boy band apakah bisa menyanyi atau tidak. Ketika melihat penampilan HITZ dengan akustik, ia pun baru yakin kalau boy band HITZ tak hanya pandai menari tapi juga piawai bermusik.

“Pada intinya masyarakat  Indonesia suka musik, dari dahulu budaya Indonesia juga ada musiknya. Sehingga ketika budaya K-Pop masuk masyarakat kita menerimanya,” jelas Rahayu Kertawiguna.

Kemudian presenter Prabu Revolusi melanjutkan diskusi ke fenomena yang begitu cepat terjadi di Indonesia. Tentu saja dua narasumber yang hadir pagi itu sangat mengerti dan tahu persis kenapa fenomena ini bisa cepat mewabah di tanah air.

“Ada ciri-ciri khas di K-Pop yang terbawa ke Indonesia dan dengan cepat ditangkap remaja di Indonesia. Ciri khas itu adalah menari, menyanyi dan fashion juga tampang yang keren dan cantik menarik,” ungkap Hans Miller Banurea memberikan alasan kenapa K-Pop cepat diterima di Indonesia.

Mengenai seberapa lama fenomena K-Pop akan berakhir. Mengenai pertanyaan tersebut Hans Miller menerangkan kalau industri musik saat ini sedang lesu. Sampai kapan K-pop akan terus bertahan? Menurutnya belum bisa diprediksi secara pasti. Namun secara trend semestinya bisa bertahan.

“Untuk mempertahankan tend ini yaitu bagaimana kita mempromosikannya, selain itu si boy band dan girl band ini harus terus melatih kemampuannya. Karena mereka mudah diterima di masyarakat dan mudah juga diterima tampil di televisi , terkadang mentalitas mereka merasa cepat sukses sehingga mutu mereka turun, tapi kalau mereka terus berlatih saya rasa mutu mereka akan terus meningkat,” ujar Rahayu Kertawiguna.

Diskusi pun di tutup dengan penampilan HITZ dan girlband Sexy Babies yang membawakan single perdana mereka yaitu Auu Auu Ahh karya Yogi Gaijin. www.nagaswaramusic.com/ Tim NMC

COMMENTS