WALI dan Musiknya Bikin Gila Orang Korea

WALI dan Musiknya Bikin Gila Orang Korea

WALI Bikin Gila Orang Korea ?? “Music is the universal language of mankind”. Saat kuliah dulu, saya sempat mengutip penggalan kalimat berbahasa Inggri

Tradisi Perayaan Tahun Baru di Dunia
Keith Martin Support Personel Be5T
NS1 Diwawancara Majalah FORBES

WALI Bikin Gila Orang Korea ?? “Music is the universal language of mankind”. Saat kuliah dulu, saya sempat mengutip penggalan kalimat berbahasa Inggris milik sastrawan Amerika Henry Wadsworth Longfellow itu untuk melengkapi proposal musik kampus yang dibuat sahabat saya. Meski tidak mengerti betul makna kalimat tersebut, saya hanya merasa proposal itu akan terlihat hebat dengan kutipan kalimat  tadi. Hingga Rabu malam (29/2), di sebuah restoran Korea di kawasan SCBD, Senayan, Jakarta, saya tercengang melihat seorang bos distributor jaringan makanan, minuman dan rokok asal Korea, Mr. Kim Keum Bae, yang dengan fasih serta sepenuh hati melantunkan lagu-lagu band WALI. Saya meyakini, itulah makna sebenarnya dari kalimat “Musik adalah bahasa semua umat manusia di muka bumi.”

Sebenarnya, bukan baru sekali itu Mr. Kim bertemu dengan band pujaannya, WALI. Akhir tahun lalu, Mr. Kim menggelar sebuah panggung musik dengan mengundang WALI, The Virgin dan beberapa band pendukung lainnya sebagai pengisi acara. Untuk kali pertama Mr. Kim naik panggung, lalu berduet menyanyikan lagu “Baik-baik Sayang” dengan Faank, vokalis WALI.  Lagu-lagu WALI berikutnya dilahap Mr. Kim  tanpa cacat, meski dilepas Faank untuk bernyanyi sendiri. Mr. Kim memang penggila sejati lagu-lagu band asal Ciputat, Tangerang, Banten itu. Pada  beberapa kesempatan selanjutnya, Mr.Kim tetap berupaya menjaga silaturahmi dengan mengundang para personil WALI dalam sebuah  jamuan makan malam yang sangat akrab dan hangat. Terakhir, ya Rabu malam kemarin itu mereka bertemu kembali.

Kisah kedekatan band WALI dengan pria Korea bertubuh kecil itu sangatlah menarik disimak. Bagaimana tidak, di saat warna musik negeri ini tengah dibelokkan oleh “Korean Wave” atawa “Korean pop” dengan boy dan girl band-nya, ternyata masih ada seorang Korea dan rekan-rekannya yang kesengsem dengan lagu-lagu milik band asli Indonesia, WALI. Inilah band yang pada 5 tahun lalu sempat dianak tirikan di negerinya sendiri  karena mengusung musik Melayu. Bagi Mr. Kim, WALI dan lagu-lagunya adalah “sesuatu”, sangat memberi inspirasi. Tak salah jika sejak awal kemunculan WALI, Mr. Kim mengaku sudah menyukai lagu-lagu mereka. Setiap ber-karaoke bersama rekan-rekannya, Mr. Kim hanya memilih menyanyikan lagu-lagu WALI. Lain tidak!

“Saya menyukai semua lagu-lagu WALI. Saya hafal lagu ‘Harga Diri’, ‘Puaskah’, ‘Aku Bukan Bang Toyib’, dan masih banyak lagi. Sekarang saya sedang belajar lagu ‘Abatasa’,” ujar Mr. Kim dengan bahasa Indonesia yang cukup baik.

Di hadapan para personil WALI (Apoy, Faank, Tomi dan Ovie) serta sejumlah wartawan,  Mr. Kim lalu membuktikan kata-katanya dengan menyanyikan penggalan refrain lagu “Abatasa”. Menurutnya, baru di bagian itu dia menghafal  lagu soal belajar mengaji tersebut. Tapi itu bukan soal. Bayangkanlah tentang seorang Korea beragama selain Islam, dengan penuh percaya diri melantunkan refrain lagu “Abatasa”,  yang notabene berisi kumpulan huruf-huruf berbahasa Arab itu. Hal inilah yang boleh jadi membuat mata Apoy, gitaris WALI langsung berkaca-kaca. Tampaknyha dia tidak percaya ada orang berkebangsaan lain yang berbeda bahasa dan budaya, tapi begitu mengenal dan menyukai lagu-lagu WALI.

“MasyaAllah, kita nggak nyangka. Lagu WALI ternyata bukan hanya milik kita tapi juga orang Korea. Kita nggak ngerti bahasa Inggris apalagi Korea. Tapi dengan lagu,  kita bisa berbagi perasaan yang sama dengan orang Korea. Kita hormati dia, kita berterimakasih,” kata Apoy.

Musik pada dasarnya memang tidak berkaitan dengan gengsi, bahasa atau budaya. Musik adalah soal rasa. Hal inilah yang dirasakan Mr. Kim terhadap lagu-lagu WALI. Saking ngefansnya dengan WALI, Mr.Kim tidak peduli harus merogoh koceknya dalam-dalam untuk menghadirkan WALI dalam konser yang disponsori perusahaannya. Pada bulan April mendatang, WALI  sudah diikat Mr. Kim untuk tampil dalam sebuah panggung hiburan di pusat kota di Bandung, Jawa Barat. Di hadapan para personil WALI, Mr. Kim bahkan tidak sungkan menyebut dirinya sebagai anggota Para WALI (sebutan untuk penggemar setia WALI). Dan untuk menghargai perhatian Mr. Kim yang begitu besar kepada musik WALI, Apoy cs pun melantik laki-laki paruh baya itu sebagai Anggota Kehormatan Para WALI. Luar biasa sumringah dan bangganya wajah Mr. Kim saat menerima piagam yang meresmikan dirinya sebagai bagian dari keluarga besar WALI. Berkali-kali dia memperlihatkan kertas berkaca dengan bingkai hitam itu kepada anak dan istrinya yang juga ikut hadir.

“Saya bangga dimasukkan ke dalam anggota Para WALI. Saya meras lagu WALI band bisa memberikan sesuatu semangat. Dan saat kenal mereka, saya tambah semangat lagi,” ucap Mr. Kim tulus.

WALI band dapat dijadikan teladan bagi band-band lain di Indonesia. Inilah band yang para personilnya berasal dari lingkungan pesantren, namun karya mereka bebas bicara soal apa saja. Lagu-lagu WALI bicara soal orang pacaran, soal cinta-cintaan, tapi dalam konsep yang baik dan sehat. Lewat lagu, WALI ingin berbagi kebaikan kepada sebanyak mungkin orang. WALI dan orang Korea seperti Mr. Kim, bukanlah cerita revolusi musik berdarah-darah seperti musik The Beatles yang mengubah jarum jam dunia. Tapi dari mereka ada cerita keteladanan. Ada kebanggaan yang begitu tulus. Ada kesetiaan. Jika Mr. Kim yang lidahnya terbiasa dengan Kimchi itu saja bisa menyukai dan bangga akan musik anak Indonesia, kenapa kita tidak? www.nagaswaramusic.com (afif yufril attamimi)

COMMENTS